Berita Terkini dan Terpercaya
KontakIndeks Berita

Ribuan Jemaah Padati Baayun Maulid di Masjid Al Mukarramah Tapin, Tradisi Warisan Budaya yang Kian Mendunia

IMG 20250906 WA0088

RANTAU, fokusbanua.com – Masjid Al Mukarramah, Desa Banua Halat Kiri, Kecamatan Tapin Utara, kembali dipadati ribuan jemaah dari berbagai daerah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkai dengan tradisi Baayun Maulid, Sabtu (6/9/2025).

Tradisi turun-temurun khas Tapin ini kian mengakar dan semakin dikenal luas di luar daerah. Tahun ini, peringatan mengusung tema “Dengan Sholawat, Bersatu Ummat. Mendapat Syafa’at, Dunia dan Akhirat.”

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin, mewakili Gubernur Kalsel, menegaskan Baayun Maulid bukan sekadar ritual simbolis, melainkan wujud integrasi nilai keagamaan dengan budaya lokal.

“Tradisi ini mencerminkan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus doa agar anak-anak yang diayun tumbuh sehat, berakhlak mulia, dan selalu dalam lindungan Allah SWT,” ujarnya.

Menurutnya, kekayaan budaya seperti ini memperlihatkan nilai kebersamaan sekaligus memperkuat identitas masyarakat Banua.

“Prosesi Baayun mampu menyatukan semua kalangan, baik tua, muda, hingga bayi. Inilah bentuk nyata kecintaan kepada Rasulullah yang penuh makna,” tambahnya.

Bupati Tapin, H. Yamani, menyebut Baayun Maulid kini telah menjadi ikon daerah yang membawa nama Tapin ke kancah lebih luas.

“Alhamdulillah, banyak masyarakat dari luar daerah yang ikut berpartisipasi. Ini kebanggaan bagi Tapin. Insya Allah, tahun depan jumlah jemaah akan terus bertambah, dan tradisi ini bisa semakin dikenal hingga ke tingkat nasional bahkan internasional,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, Ahmad Suriansyah, melaporkan sebanyak 3.160 orang resmi terdaftar mengikuti prosesi tahun ini. Peserta tidak hanya berasal dari berbagai kabupaten/kota di Kalsel, tetapi juga dari luar daerah, termasuk Tangerang, Banten.

Peserta tertua adalah Arfah (96 tahun), warga Desa Banua Halat, sementara peserta termuda adalah bayi Siti Aisah berusia 21 hari dari Desa Banua Hanyar Hulu.

“Dari balita, remaja, dewasa hingga lansia, semuanya larut dalam suasana penuh khidmat. Antusiasme terus meningkat setiap tahun. Kami berharap tradisi ini bisa berkembang menjadi warisan budaya dunia,” ucap Suriansyah.

Hadir pula penceramah Tuan Guru H. Muhammad Rasyid Ridho yang menekankan bahwa Maulid Nabi bukan sekadar perayaan, melainkan momentum memperdalam keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi Baayun Maulid sendiri memiliki daya tarik khas: peserta duduk di dalam ayunan berhiaskan kain warna-warni, diiringi lantunan syair maulid dan doa. Simbolisasi ini diyakini sebagai ungkapan cinta kepada Rasulullah sekaligus doa agar segala hajat dikabulkan Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *